Jumat, 29 Agustus 2008

konfigurasi ftp server


mengkonfigurasi ftp server

FTP

FTP (singkatan dari File Transfer Protocol) adalah sebuah protokol Internet yang berjalan di dalam lapisan aplikasi yang merupakan standar untuk pentransferan berkas (file) komputer antar mesin-mesin dalam sebuah internetwork.

FTP merupakan salah satu protokol Internet yang paling awal dikembangkan, dan masih digunakan hingga saat ini untuk melakukan pengunduhan (download) dan penggugahan (upload) berkas-berkas komputer antara klien FTP dan server FTP. Sebuah Klien FTP merupakan aplikasi yang dapat mengeluarkan perintah-perintah FTP ke sebuah server FTP, sementara server FTP adalah sebuah Windows Service atau daemon yang berjalan di atas sebuah komputer yang merespons perintah-perintah dari sebuah klien FTP. Perintah-perintah FTP dapat digunakan untuk mengubah direktori, mengubah modus transfer antara biner dan ASCII, menggugah berkas komputer ke server FTP, serta mengunduh berkas dari server FTP.

Sebuah server FTP diakses dengan menggunakan Universal Resource Identifier (URI) dengan menggunakan format ftp://namaserver. Klien FTP dapat menghubungi server FTP dengan membuka URI tersebut.

Cara kerja protokol FTP

FTP menggunakan protokol Transmission Control Protocol (TCP) untuk komunikasi data antara klien dan server, sehingga di antara kedua komponen tersebut akan dibuatlah sebuah sesi komunikasi sebelum transfer data dimulai. Sebelum membuat koneksi, port TCP nomor 21 di sisi server akan "mendengarkan" percobaan koneksi dari sebuah klien FTP dan kemudian akan digunakan sebagai port pengatur (control port) untuk (1) membuat sebuah koneksi antara klien dan server, (2) untuk mengizinkan klien untuk mengirimkan sebuah perintah FTP kepada server dan juga (3) mengembalikan respons server ke perintah tersebut. Sekali koneksi kontrol telah dibuat, maka server akan mulai membuka port TCP nomor 20 untuk membentuk sebuah koneksi baru dengan klien untuk mentransfer data aktual yang sedang dipertukarkan saat melakukan pengunduhan dan penggugahan.

FTP hanya menggunakan metode autentikasi standar, yakni menggunakan username dan password yang dikirim dalam bentuk tidak terenkripsi. Pengguna terdaftar dapat menggunakan username dan password-nya untuk mengakses, men-download, dan meng-upload berkas-berkas yang ia kehendaki. Umumnya, para pengguna terdaftar memiliki akses penuh terhadap beberapa direktori, sehingga mereka dapat membuat berkas, membuat direktori, dan bahkan menghapus berkas. Pengguna yang belum terdaftar dapat juga menggunakan metode anonymous login, yakni dengan menggunakan nama pengguna anonymous dan password yang diisi dengan menggunakan alamat e-mail.

LANGKAH PEMBUATAN FTP

1. setelah anda selesai membuat DNS server maka langka selanjutnya ialah pembuatan FTP . langkah nya ialah :

– pilih menu start

– pilih program

– pilih administrative tools

– pilih internet services manager

2. Setelah masuk ke dalam applikasi internet services manager , klik kanan pada sever anda , pilih new , lalu FTP site .

3. kemudian muncul form FTP site Creation wizard, lalu pilih next untuk melanjutkan.

4. kemudian muncul form FTP site descripton , lalu isikan descripsinya ,

misalnya Tkj 2.

5. kemudian muncul form pengisian IP address dan PORT settings, contohnya

untuk ip yaitu 192.168.5.10 , dan untuk port menggunakan port 21. Dan next

6. lalu muncul kotak FTP site home directory , yang di gunakn untuk

memasukan path ke home directory anda . Di sini kita akan mencoba

menggunakan modul xampp yang ada di htdocs. Setelah di browse ,lalu

next .

7. kemudian muncul FTP site access permissions , yang berguna untuk

menentukan access yang dapat di lakukan . clik write dan read . lalu next

8. setelah itu lalu finnish

9. lalu untuk membuat site nya , anda dapat klik kanan pada administrations web site ,

Pilih new , lalu site . cara nya hampir sama dengan membuat FTP, lalu isikan juga

pada FTP site home directory modul xampp / htdocs , lalu finish.

10 . untuk mengaktifkan FTP dan site nya , klik kanan pada server anda pilih restart

ISISS

instalasi windows 2000 server


Mengkonfigurasi DNS Server:

Membuat Primary dan Secondary DNS Server


Untuk beroperasinya sebuah jaringan komputer Internet, sebetulnya pengalamatan sebuah komputer dilakukan menggunakan angka yang dikenal sebagai Internet Protocol (IP) Address yang terdiri dari 32 bit. Tentunya akan sukar bagi manusia / user untuk mengingat sekian juta komputer di seluruh Internet. Untuk itu dikembangkan penamaan mesin yang lebih manusiawi menggunakan konsep Domain Name System (DNS). Pada tulisan ini kami akan mencoba menjelaskan cara mensetup DNS Server di mesin dengan OS UNIX. Kemampuan ini akan sangat dibutuhkan bila sebuah institusi /perusahaan ingin mempunyai nama hostname sendiri di Internet.

Domain Name System adalah salah satu jenis sistem yang melayani permintaan pemetaan IP Address ke FQDN ( Fully Qualified Domain Name ) dan dari FQDN ke IP Address. FQDN lebih mudah untuk diingat oleh manusia daripada IP Address. Sebagai contoh, sebuah komputer memiliki IP Address 167.205.22.114 dan memiliki FQDN “nic.itb.ac.id”. Nama “nic.itb.ac.id” tentunya lebih mudah diingat daripada nomor IP Address di atas. Apalagi setelah lahirnya konsep IP Version 6 yang memiliki 6 segment untuk setiap komputer sehingga nomor IP Address menjadi semakin panjang dan lebih sulit untuk diingat. Selain itu, DNS juga menyediakan layanan mail routing, informasi mengenai hardware, sistem operasi yang dijalankan, dan aplikasi jaringan yang ditangani oleh host tersebut.

Pada sistem operasi UNIX, DNS diimplementasikan dengan menggunakan software Berkeley Internet Name Domain (BIND). BIND ini memiliki dua sisi, yaitu sisi client dan sisi server. Sisi client disebut resolver. Resolver ini bertugas membangkitkan pertanyaan mengenai informasi domain name yang dikirimkan kepada sisi server. Sisi server BIND ini adalah sebuah daemon yang disebut named. Ia yang akan menjawab query-query dari resolver yang diberikan kepadanya.

Pada saat BIND dijalankan, ia memiliki 4 modus operasi, yaitu :

· Resolver-only

Komputer hanya membangkitkan query informasi domain name kepada sebuah DNS server dan tidak menjalankan fungsi DNS server.

· Caching-only

Komputer menjalankan fungsi name server tetapi tidak memiliki database DNS server. Ia hanya mempelajari jawaban-jawaban query yang diberikan oleh remote DNS server dan menyimpannya dalam memory. Data-data dalam memory tersebut akan digunakan untuk menjawab query selanjutnya yang diberikan kepadanya.

· Primary server

Komputer menjalankan fungsi name server berdasarkan database yang dimilikinya. Database ini dibangun oleh administrator DNS. Server ini menjadi authoritative source bagi domain tertentu.

· Secondary server

Komputer menjalankan fungsi name server berdasarkan database yang diambil dari primary server. Proses pengambilan file database ini sering disebut zone file transfer. Ia juga menjadi authoritative source bagi domain tersebut.

Resolver-only

Saat berada dalam modus resolver-only, BIND akan mencari file /etc/resolv.conf (pada UNIX umum) dan membaca konfigurasi yang tertera dalam file tersebut. Jika BIND tidak menemukan file tersebut maka ia akan menggunakan konfigurasi standar yang dimilikinya.

Bentuk dasar sintaks pada file /etc/resolv.conf adalah sebagai berikut :

domain name

nameserver address

[nameserver address]

domain menyatakan default domain seperti yang didefinisikan oleh entry name. Jika ada penulisan nama host yang tidak mengandung tanda baca titik maka resolver akan menambahkan entry name di belakang nama host tersebut. Sebagai contoh, jika Anda menuliskan host name mail saja dan entry name berisi ptn.co.id maka resolver akan menggunakan nama mail.ptn.co.id.

nameserver menyatakan server mana yang harus dihubungi jika ada query dari resolver mengenai domain di atas. Apabila server tersebut tidak bisa dihubungi, server selanjutnya menjadi sasaran lemparan query.

Contoh listing file /etc/resolv.conf :

# Resolver configuration file

domain ptn.co.id

# Server terdekat adalah mumet.ptn.co.id, IP 169.98.3.1

nameserver 169.98.3.2

# Gagal ??? Coba server kedua : nggliyeng.ptn.co.id, IP 169.98.2.15

nameserver 169.98.2.15

# Gagal lagi ??? Server ketiga : ngeh.ptn.co.id, IP 169.98.1.2

nameserver 169.98.1.2

Ketiga modus selanjutnya dapat dijalankan secara bersamaan atau berdiri sendiri pada sebuah komputer yang menjadi DNS server. Pengaturan modus ini dilakukan pada konfigurasi daemon named. File-file penting yang menjadi acuan bagi named untuk beroperasi adalah named.boot, data_cache, data_domain, dan data_reverse. named.boot adalah file yang berisi boot script bagi DNS server. data_cache adalah file yang berisi DNS root server. data_domain adalah file yang berisi pemetaan dari FQDN ke IP Address dan data terlengkap dari domain yang bersangkutan. data_reverse adalah file yang berisi data mengenai pemetaan IP Address ke FQDN. Pada sistem operasi UNIX, file-file tersebut terletak di direktori /etc/namedb. Direktori tersebut menjadi default bagi named.

File konfigurasi yang paling penting bagi named adalah file /etc/namedb/named.boot. File ini berisikan perintah-perintah yang mendefinisikan fungsi named sebagai caching-only server, primary server, atau secondary server.

Caching-only

Jika kita ingin mengatur agar named hanya beroperasi pada modus caching-only maka file named.boot hanya berisi perintah cache diikuti nama file yang berisi server-server utama yang menjadi tempat melemparkan query.

Berikut ini contoh file named.boot dimana kita mengatur named agar beroperasi pada modus caching-only :

; file named.boot

;

; mendefinisikan default directory

directory /etc/namedb

;

; menjadi caching-only server

cache data_cache

;

Primary Server

Jika kita menghendaki named pada komputer kita menjadi primary server, kita tambahkan kata primary diikuti domain yang dipegang oleh named tersebut dan diakhiri dengan nama file yang berisi database domain tersebut..

Sebagai contoh, komputer kita menjadi primary server untuk domain ptn.co.id dengan file data_domain berjudul ptn. Sebaiknya, sebuah primary server juga menjalankan fungsi caching-only. Hal ini untuk menambah kehandalan server dalam menjawab query-query yang cukup rumit. File named.boot akan berisi sebagai berikut :

; file named.boot

;

; mendefinisikan default directory

directory /etc/namedb

;

; menjadi caching-only server

cache data_cache

;

; menjadi primary server atas domain ptn.co.id

primary ptn.co.id ptn

;

; menjadi primary server atas pemetaan IP Address 169.98.1.x ke FQDN

primary 1.98.169.IN-ADDR.ARPA rev_169.98.1.x

;

Jika komputer kita juga menjadi primary server atas pemetaan IP Address 169.98.1.x ke FQDN maka kita tambahkan entry yang terakhir.

Secondary Server

Secondary server adalah DNS server yang menggunakan database domain yang ditransfer dari primary server. Untuk mengatur server agar menjadi secondary bagi domain tertentu, kita tambahkan kata secondary diikuti dengan domain yang dipegang, kemudian diikuti oleh IP Address primary server dan diakhiri dengan nama file databasenya.

Sebagai contoh, komputer kita akan bertindak sebagai secondary server untuk domain pts.ac.id. Primary server domain dipegang oleh server dns.pts.ac.id dengan nomor IP Address 190.21.85.2. Kita edit file named.boot sehingga menjadi seperti berikut :

; file named.boot

;

; mendefinisikan default directory

directory /etc/namedb

;

; menjadi caching-only server

cache data_cache

;

; menjadi primary server atas domain ptn.co.id

primary ptn.co.id ptn

;

; menjadi secondary server atas domain pts.ac.id dari dns.pts.ac.id

secondary pts.ac.id 190.21.85.2 sec_pts

;

; menjadi primary server atas pemetaan IP Address 169.98.1.x ke FQDN

primary 1.98.169.IN-ADDR.ARPA rev/rev_169.98.1.x

;

; menjadi secondary server atas pemetaan IP Address 190.21.85.x ke FQDN

secondary 85.21.190.IN-ADDR.ARPA 190.21.85.2 rev/sec_190.21.85.x

Jika kita juga menjadi secondary server atas pemetaan IP Address 190.21.85.x ke FQDN dari server dns.pts.ac.id kita tambahkan entry yang terakhir.

Langkah selanjutnya adalah membuat file data_domain dan data_reverse (seperti file ptn dan rev/rev_169.98.1.x) yang akan dibahas pada artikel mendatang.

Daftar Pustaka

· RFC 1034, “Domain Names - Concepts and Facilities”

· RFC 1035, “Domain Names - Implementation and Spesification”